Thursday, 18 October 2012

Autumn...


ps : kalau ada yang pernah liat FF ini di mymindheartandlove.wordpress.com , itu aku bukan nyontek. udah jelas kan, nama blognya apa ? Park Seul Rin. jadi mymindheartandlove.wordpress.com itu punya aku juga. Karena aku beranggapan kalau FF itu bagus banget, dan itu emang kisah cinta tante aku, jadi aku post juga deh, disini^^





Seo Joo Hyun’s POV
Aku termenung dalam diam. Dedaunan pohon maple yang menguning berguguran disekelilingku. Aku mendesah sambil memejamkan mata, menikmati musim yang amat kusukai, musim yang penuh kenangan tentang dirinya. Mataku berkelilinng mencari sosok yang kurindukan. Kembali aku teringat pertemuanku dengan dirinya yang selalu memenuhi benakku, pria asing bernama Cho Kyuhyun. Kyuhyun yang baik, Kyuhyun yang humoris, Kyuhyun yang romantis, Kyuhyun yang selalu kurindukan……
***
*flashback*

Maple street, Gapyunggun, Gyeounggi-do, Korea
Aku berjalan dengan langkah ragu. Mataku mencari-cari dengan panik. Berkali-kali kutatap kertas berbentuk segi empat yang kugenggam erat. Aku menoleh kekanan dan kiri. Terlihat pepohonan maple berjejer rapi di pinggir jalan yang kulalui, dengan dedaunan yang menguning berguguran.

Kurapikan syal yangg melilit leherku. Walaupun musim dingin masih beberapa bulan lagi, tapi aku tetap merasa kedinginan. Ini pertama kalinya aku menginjakkan kaki ditangah kelahiranku setelah 10 tahun aku tinggal di Amerika.

Aku kembali melangkahkan kaki menyusuri jalan sambil melototi kertas alamat ditanganku.

BUK !!

Aku menabrak seseorang. Kami berdua terjatuh dan belanjaan yang dibawa orang itu berserakan di tanah.

“Mianhae, jeongmal mianhae !! Biarkan aku membantumu,” jeritku panik. Aku membantunya mengumpulkan barang belanjaannya.

“Gwenchana.” Jawab orang itu pelan.

Kami berdua berdiri, ia menepuk-nepuk celana jinsnya yang berdebu. Hampir saja aku tersedak ketika memandang matanya. Belum pernah aku melihat mata seindah itu. Warnanya cokelat gelap, dengan iris mata berwarna hitam pekat.

Ia menatap celana jinsku yang sedikit tersobek di bagian lutut. Sejenak kami terdiam, kemudian ia menarik tanganku, mendudukkanku dibangku trotoar dan berlari meninggalkanku.

Tidak sampai lima menit ia sudah kembali dan tanpa bicara mengobati lukaku. Aku kehilangan kata-kata. Sikapnya yang gentle menyentuh hatiku. Setelah itu kami berdua duduk di bangku taman.

“Gamsahamnida.”

“Mianhaeyo.”

Kami berdua tersenyum karena bicara dalam waktu bersamaan.

“Kenapa minta maaf ?” Ujarku pelan.

“Karena melukai lututmu.” Aku tertawa menanggapinya.

“Kau terlalu berlebihan, aku baik-baik saja., terima kasih.” Ia mendesah, masih terlihat menyesal.

“Kau sedang mencari alamat ini?” tanyanya menunjuk ke kartu namaku yang terjatuh. Aku hanya mengangguk seperti orang tolol. Mata cokelatnya sukses menghipnotisku.

“Em… Ne, aku tersesat.” Aku meringis.

Pria itu tersenyum dan lagi-lagi aku menahan napas. Oh tidak, ada apa denganku sih ? Aku seperti anak SMU yang sedang kasmaran !

Beberapa menit kemudian, aku sudah berjalan bersisian dengannya. Katanya, alamat yang sedang kucari tidak jauh dari rumahnya, dan ia menawarkan diri untuk mengantarku. Selama perjalanan, kami tidak banyak bicara. Ia cukup sopan untuk tidak bertanya ini-itu selain alasan mengapa aku mencari alamat ini.

“Ini alamat apartemen sahabatku, Park Seul Rin. Ia dan pacarnya mengundangku makan malam. Tapi aku kesulitan mencari alamatnya.” Jelasku padanya. Ia hanya mengangguk-angguk.

Seikitar lima belas menit kemudian akhirnya aku sampai di depan apartemen Seul Rin. Dan pria itu akhirnya pamit pulang. Aku mengucapkan banyak terima kasih padanya.

“Sama-sama, ceroboh !” Ujarnya sambil mengacak rambutku. Aku terbatuk-batuk mendengarnya. Sementara ia sudah melambaikan tangan dan pergi. Ia pasti mengatakan itu karena aku menabraknya tadi. Aku mengulum senyum, bertanya-tanya apakah aku dapat kembali bertemu dengannya.

Aku berjalan masuk ke dalam apartemen sahabatku. Apartemen tersebut terdiri dari 3 lantai dengan taman yang indah. Kata Seul Rin, apartemennya berada dilantai 2.

Aku mengetuk pintu bernomor 105.

Seorang wanita membukanya. Sejenak, aku mendadak bingung. Siapa wanita itu ?

“Seohyun~a !!” Wanita itu memelukku dan berteriak di telingaku.

“Kau siapa ?” tanyaku setelah wanita itu melepaskan pelukannya. Ia terlihat bingung.

“Kau tidak tahu siapa aku ? Astaga, aku Park Seul Rin !!! Kau lupa pada sahabatmu sendiri ?? Lalu kenapa kau mencariku, kalau begitu ??” Ia merengut. Astaga, wanita didepanku ini benar-benar berubah. Dulu, ia lebih sering memakai Celana, dan rambutnya dipotong pendek. Sekarang ? Ia memakai baju terusan bermotif bunga sakura dan rmabut hitamnya tergerai begitu saja.

“Ka…kau Park Seul Rin ?? Astaga, kau berubah !!” Aku segera merangkulnya dan menerobos masuk ke apartemennya. Aku melihat seorang pria sedang memanggang daging.

“Nah, ini namjachinguku. Perkenalkan, Kim Ryeowook !” Aku membungkuk. Ia hanya mengangguk singkat lalu kembali ketumpukan dagingnya,

“Hmm….. kelihatannya lezat…..” Kataku sambil mencium tumpukan daging panggang itu.

“Tentu saja, Ryeowook paling jago barbeque, oh tidak, dia pandai memasak apapun. Lihat, aku tampak gemuk bukan ? Ryeowook mencekokiku masakannya yang lezat setiap hari.” Seul Rin mulai berceloteh. Aku tertawa mendengarnya.

“Bukankah itu bagus ? Nyonya Kim ?” Pria bernama Ryeowook itu terkekeh.

Seul Rin merengut kesal kearah pria itu dan kembali menatapku,”oh ya, bagaimana perjalananmu hingga bisa sampai ke apartemenku ? Maklum, apartemenku agak terpencil.”

“Ya, apartemenmu sangat terpencil, aku bahkan tersesat. Untungnya, seseorang yang baik hati mengantarku ke sini…..” aku berhenti sejenak. “Oh tidak !!”

Seul Rin menatapku aneh. Keningnya berkerut.

“Aku lupa menanyakan namanya !!”
***
Beberapa minggu setelahnya, aku beretmu lagi dengannya. Diwaktu yang sama, yaitu sore hari dan di tempat yang sama. Bedanya, kali ini aku tidak tersesat, dia tidak membawa belanjaannya, dan aku tidak menabraknya.

“Hey.”

“Hai,” balasku sambil tersenyum kikuk.

“Aku belum tahu namamu.” Suara beratnya menenangkanku. Tapi tidak cukup untuk menenangkan degup jantungku yang bertalu-talu cepat saking senangnya.

Akhirnya, kami menghabiskan sore itu sambil berjalan-jalan di bawah indahnya pohon maple. Ia mengajakku minum kopi di cafe yang terletak tidak jauh dari Maple Street.

Lelaki bermata cokelat itu bernama Kyuhyun. Cho Kyuhyun. Ia tampak masih berasa salah setelah menbrakku beberapa waktu yang lalu.

“Maafkan aku tentang insiden tabrakan itu. Apalagi kau sampai berdarah karena itu. Jeongmal mianhaeyo, Seohyun~a.” Ujar Kyuhyun pelan.

“Hmm…. bagaimana kalau kau traktir aku hari ini dan aku akan memaafkanmu ?” Raut menyesal perlahan-lahan menghilang dari wajahnya dan digantikan oleh senyum gelinya. Demi tuhan, senyumnya sungguh manis.

“Oke. Anything for you.” Aku tersedak. Astaga, pria ini benar-benar.

Esok hari dan seterusnya, kami selalu bertemu lagi. Seolah sungguh-sungguh ditakdirkan. Walaupun tidak selalu di Maple Street. Kadang-kadang, kami bertemu di taman dekat apartemen Seul Rin. 

Kami kian dekat, hingga tanpa sadar sesuatu menjalari hatiku. Aku mulai jatuh cinta padanya. Pada mata cokelat gelapnya yang indah, pada senyumnya yang menenangkan, pada kebaikannya, dan pada semua yang ada pada dirinya.
***
Hampir tiga bulan aku mengenal Kyuhyun. Selama itulah kami berteman. Kyuhyun lebih tua tiga tahun dariku. Ia bekerja sebagai computer programmer  di suatu perusahaan besar di Korea. 

Sementara aku masih melanjutkan kuliah ku di Kyungwoon University. Kami sering menghabiskan waktu bersama. Mengobrol dengannya seolah membaca koran, pengetahuan Kyuhyun sangat luas.

Kyuhyun juga humoris tapi terkadang romantis. Pernah suatu kali ia merayakan ulang tahunku dengan mengajakku dinner di pinggir danau, beratapkan bintang-bintang. Ulang tahun terindah namun terpahit yang pernah kurasakan karena Kyuhyun tiba-tiba mengatakan sesuatu yang tidak ingin kudengar.

“Seohyun~a,” panggil Kyuhyun lembut. Saat itu kami sedang menikmati kopi sambil melontarkan lelucon-lelucon konyol.

Ia mengenggam tanganku lalu menunduk. “Aku harus kembali ke negaraku.”

“A….apa ? Tapi negaramu kan disini, Di Korea Selatan ! Apa maksudmu ?” Aku menatapnya.

“Orangtuaku tinggal di Australia, Seohyun~a. Aku memang orang Korea Selatan, tetapi orangtuaku pindah ke Australia saat umurku 5 tahun. Dan aku juga ikut pindah. Aku kembali kesini saat kuliah dan berniat meneruskan hidupku disini. Tetapi, appaku memaksa untuk melanjutkan pekerjaanku di Australia. Aku juga tidak mengerti pikiran appaku,”  dia menghelan nafas sebentar, lalu melanjutkan,”Yang jelas, aku akan kembali ke Australia besok.”

Aku menatapnya tak percaya. “Maafkan aku. Jeongmal mianhaeyo Seohyunnie…..”

Tanpa sadar, air mataku mengalir. Aku menarik tanganku dari genggamannya. Kyuhyun menatapku. Mata cokelatnya sarat akan kesedihan. Belum pernah aku melihat mendung dimatanya. Tangisanku makin menjadi.

“Hahahahahaha,” aku tertawa hambar. “Aku bahkan tak tahu mengapa aku menangis. Kau bukan siapa-siapa buatku. Kau hanya sahabatku…” Aku menunduk menghapus air mata dengan punggung tangan, berusaha tegar.

“Jinjja  ?” Kyuhyun terlihat kecewa. Ia kembali menggenggam tanganku.

“Jadi…… kita berdansa ?” ajaknya. Aku terbelalak kaget. Tidak mengerti kenapa disaat sperti ini ia malah mengajakku berdansa.

“Ne ?”

“Sejak dulu, aku ingin sekali berdansa dengan seseorang dibawah guguran daun maple, ditemani cahaya bintang dan bulan. Jadi…… maukah kau berdansa denganku ? Setidaknya malam perpisahan kita ?” Ia bertanya dengan nada ragu-ragu. Aku mengangguk pelan.

Kyuhyun merangkulku, melatakkan tangannya dipinggangku dan mendekapku erat. Aku menyandarkan kepala dibahunya. Suara Mandy Moore mengalun lembut dari telepon genggeam Kyuhyun. Entah kapan ia menyetelnya.

“Kau tahu, Seohyun~a ? Ini lagu favoritku,”bisiknya.. Ia menyenandungkan lagu tersebut.

There’s a song that inside of my soul
It’s the one that I’ve tried to write over and over again
I’m awake in the infinite cold,
but you sing to me over And over and over again
So I lay my head back down
And I lift my hands and pray
to be only yours I pray
to be only yours I know now,
you’re my only hope……..

Aku kembali menangis, suara merdu Kyuhyun membelai telingaku. Aku akan merindukannya. Pasti. Hatiku berdenyut perih membayangkan hari-hari tanpa dirinya.

“Seohyun~a,”

Aku mendongak, menatap wajahnya.

“Berjanjilah padaku kau akan menungguku, ditempat yang sama, dibawah pohon maple ini. dimusim yang sama, aku akan kembali, dua tahun lagi.” Suaranya bergetar, menahan emosi. Aku mengangguk sambil menahan tangis. Malam itu berakhir setelah kami berdansa. Setelah itu Kyuhyun mengantarku pulang.

Tidak ada pengakuan cinta, tidak ada perlakuan mesra, hanya janji.
*flashback off*
***
Aku masih terdiam di bangku yang kududuki. Tak henti-hentinya menatap pohon maple, seolah dengan begitu aku dapat mengingat kembali orang yang amat kusayangi. Sudah dua tahun berlalu dan aku harus menunggu Kyuhyun kembali.

Musim gugur hampir berakhir, beberapa pohon maple terlihat kering dan mati. Seperti hatiku. Taman ini terlihat sepi, tentu saja. Tidak akan ada orang waras yang duduk dan menikmati hari dicuaca seperti ini. Namun dari kejauhan aku melihat seseorang tengah berjalan mendekat. Ia menghampiriku dengan tergesa-gesa. Wajahnya terlihat khawatir, seketika aku membuang muka.

“Seohyun~a,”panggilnya. Aku bergeming. Ia mendesah dan duduk di sebelahku. Menggenggam tanganku.

“Cukup, Seohyun~a. Cukup.” Aku menoleh, menatapnya dengan kesal..

“Apa maksudmu dengan cukup, Seul Rin~a ?” tanyaku gundah. Seul Rin terus menatapku. Wajahnya terlihat khawatir.

“Kyuhyun sudah pergi. Ikhlaskan dia,” ujarnya. Perkataannya menusuk hatiku, perih sekali. Aku kembali membuang muka, tak ingin melihat kenyataan di wajah Seul Rin

“SHIREO !! Kami sudah berjanji akan bertemu kembali disini, dua tahun lagi. Dan itu sekarang.  Aku akan terus menunggunya, karena aku yakin ia akan datang. Ia sudah berrjanji padaku….” Air mataku mulai mengalir.

“Musim gugur hampir berakhir, tidakkah kau menyadarinya ?!” Suara Seul Rin meninggi. Aku membelalakkan mata, tak percaya Seul Rin bisa marah padaku.

“Kau tahu, kita sama-sama tahu. Kyuhyun tidak akan pernah kembali. Sadarlah Seohyun~a….” Ucapnya pelan, nyaris berbisik.

Namun kata demi kata yang Seul Rin ucapkan mengiris hatiku. Kenangan demi kenangan berputar diotakku. Seperti roll film. Berita dua tahun lalu begitu menyiksaku. Membuatku menolak kenyataan. Kyuhyun tidak pernah kembali, Ia bahkan tidak sempat sampai di Australia. Pesawat yang ditumpanginya mengalami kecelakaan. Tidak ada penumpang yang selamat.

“Tapi dia berjanji padaku, Seul Rin~a. Dia berjanji akan kembali….” Aku terisak hebat. Aku tahu, aku telah membohongi diri sendiri. Aku menutup mata, menolak kenyataan bahwa Kyuhyun telah tiada. Dua tahun berlalu dan aku tetap menunggu Kyuhyun. Di tempat kami berjanji akan bertemu.
Hatiku perih ketika mengingat kalau Kyuhyun belum tahu perasaanku padanya. “Kyuhyun tidak tahu……. ia tidak tahu bahwa aku mencintainya….” Aku terisak hebat.

Seul Rin ikut menangis bersamaku. Merasakan pedih yang kurasa.

“Kyuhyun tahu itu, dan ia juga menyayangimu. Ikhaskan dia, biarkan dia tenang di alam sana……”
Aku terus terisak. Kubiarkan Seul Rin memelukku dan mengelus rambutku. Kyuhyun tidak akan pernah kembali. Aku telah kehilangan separuh hatiku.

Sing to me the song of the stars
Of your galaxy dancing and laughing and laughing again
When it feels like my dreams are so far,
sing to me of the plans that you have for me over again
So I lay my head back down
And I lift,
my hands and pray…
to be only yours I pray….
to be only yours I know now you’re my only hope
I give you my destiny,
I’m giving you all of me
I want your symphony
Singing in all that I am
at the top of my lungs…..
I’m giving it back……
So I lay my head back down…
And I lift my hands and pray….
to be only yours I pray……
to be only yours I pray….
to be only yours  i know now you’re my only hope……..
(Only Hope by Mandy Moore)
-END-
 
BWAHAHAHAHAHAHA, jelek yah ?? #mewek 
 
yah2, aku ini memang sedang sial karena aku kalah taruhan dengan seseorang bernama ______. Hiks2, dana ku terpaksa memberinya pulsa 10.000. huee.... #mewek

0 comments:

Post a Comment