ps : kalau ada yang pernah liat FF ini di mymindheartandlove.wordpress.com , itu aku bukan nyontek. udah jelas kan, nama blognya apa ? Park Seul Rin. jadi mymindheartandlove.wordpress.com itu punya aku juga. Karena aku beranggapan kalau FF itu bagus banget, dan itu emang kisah cinta tante aku, jadi aku post juga deh, disini^^
Seo Joo Hyun’s POV
Aku termenung dalam diam. Dedaunan pohon maple yang
menguning berguguran disekelilingku. Aku mendesah sambil memejamkan
mata, menikmati musim yang amat kusukai, musim yang penuh kenangan
tentang dirinya. Mataku berkelilinng mencari sosok yang kurindukan.
Kembali aku teringat pertemuanku dengan dirinya yang selalu memenuhi
benakku, pria asing bernama Cho Kyuhyun. Kyuhyun yang baik, Kyuhyun yang
humoris, Kyuhyun yang romantis, Kyuhyun yang selalu kurindukan……
***
*flashback*
Maple street, Gapyunggun, Gyeounggi-do, Korea
Aku
berjalan dengan langkah ragu. Mataku mencari-cari dengan panik.
Berkali-kali kutatap kertas berbentuk segi empat yang kugenggam erat.
Aku menoleh kekanan dan kiri. Terlihat pepohonan maple berjejer rapi di
pinggir jalan yang kulalui, dengan dedaunan yang menguning berguguran.
Kurapikan
syal yangg melilit leherku. Walaupun musim dingin masih beberapa bulan
lagi, tapi aku tetap merasa kedinginan. Ini pertama kalinya aku
menginjakkan kaki ditangah kelahiranku setelah 10 tahun aku tinggal di
Amerika.
Aku kembali melangkahkan kaki menyusuri jalan sambil melototi kertas alamat ditanganku.
BUK !!
Aku menabrak seseorang. Kami berdua terjatuh dan belanjaan yang dibawa orang itu berserakan di tanah.
“Mianhae, jeongmal mianhae !! Biarkan aku membantumu,” jeritku panik. Aku membantunya mengumpulkan barang belanjaannya.
“Gwenchana.” Jawab orang itu pelan.
Kami berdua
berdiri, ia menepuk-nepuk celana jinsnya yang berdebu. Hampir saja aku
tersedak ketika memandang matanya. Belum pernah aku melihat mata seindah
itu. Warnanya cokelat gelap, dengan iris mata berwarna hitam pekat.
Ia menatap
celana jinsku yang sedikit tersobek di bagian lutut. Sejenak kami
terdiam, kemudian ia menarik tanganku, mendudukkanku dibangku trotoar
dan berlari meninggalkanku.
Tidak
sampai lima menit ia sudah kembali dan tanpa bicara mengobati lukaku.
Aku kehilangan kata-kata. Sikapnya yang gentle menyentuh hatiku. Setelah
itu kami berdua duduk di bangku taman.
“Gamsahamnida.”
“Mianhaeyo.”
Kami berdua tersenyum karena bicara dalam waktu bersamaan.
“Kenapa minta maaf ?” Ujarku pelan.
“Karena melukai lututmu.” Aku tertawa menanggapinya.
“Kau terlalu berlebihan, aku baik-baik saja., terima kasih.” Ia mendesah, masih terlihat menyesal.
“Kau sedang
mencari alamat ini?” tanyanya menunjuk ke kartu namaku yang terjatuh.
Aku hanya mengangguk seperti orang tolol. Mata cokelatnya sukses
menghipnotisku.
“Em… Ne, aku tersesat.” Aku meringis.
Pria itu tersenyum dan lagi-lagi aku menahan napas. Oh tidak, ada apa denganku sih ? Aku seperti anak SMU yang sedang kasmaran !
Beberapa
menit kemudian, aku sudah berjalan bersisian dengannya. Katanya, alamat
yang sedang kucari tidak jauh dari rumahnya, dan ia menawarkan diri
untuk mengantarku. Selama perjalanan, kami tidak banyak bicara. Ia cukup
sopan untuk tidak bertanya ini-itu selain alasan mengapa aku mencari
alamat ini.
“Ini alamat
apartemen sahabatku, Park Seul Rin. Ia dan pacarnya mengundangku makan
malam. Tapi aku kesulitan mencari alamatnya.” Jelasku padanya. Ia hanya
mengangguk-angguk.
Seikitar
lima belas menit kemudian akhirnya aku sampai di depan apartemen Seul
Rin. Dan pria itu akhirnya pamit pulang. Aku mengucapkan banyak terima
kasih padanya.
“Sama-sama,
ceroboh !” Ujarnya sambil mengacak rambutku. Aku terbatuk-batuk
mendengarnya. Sementara ia sudah melambaikan tangan dan pergi. Ia pasti
mengatakan itu karena aku menabraknya tadi. Aku mengulum senyum,
bertanya-tanya apakah aku dapat kembali bertemu dengannya.
Aku
berjalan masuk ke dalam apartemen sahabatku. Apartemen tersebut terdiri
dari 3 lantai dengan taman yang indah. Kata Seul Rin, apartemennya
berada dilantai 2.
Aku mengetuk pintu bernomor 105.
Seorang wanita membukanya. Sejenak, aku mendadak bingung. Siapa wanita itu ?
“Seohyun~a !!” Wanita itu memelukku dan berteriak di telingaku.
“Kau siapa ?” tanyaku setelah wanita itu melepaskan pelukannya. Ia terlihat bingung.
“Kau tidak
tahu siapa aku ? Astaga, aku Park Seul Rin !!! Kau lupa pada sahabatmu
sendiri ?? Lalu kenapa kau mencariku, kalau begitu ??” Ia merengut.
Astaga, wanita didepanku ini benar-benar berubah. Dulu, ia lebih sering
memakai Celana, dan rambutnya dipotong pendek. Sekarang ? Ia memakai
baju terusan bermotif bunga sakura dan rmabut hitamnya tergerai begitu
saja.
“Ka…kau
Park Seul Rin ?? Astaga, kau berubah !!” Aku segera merangkulnya dan
menerobos masuk ke apartemennya. Aku melihat seorang pria sedang
memanggang daging.
“Nah, ini
namjachinguku. Perkenalkan, Kim Ryeowook !” Aku membungkuk. Ia hanya
mengangguk singkat lalu kembali ketumpukan dagingnya,
“Hmm….. kelihatannya lezat…..” Kataku sambil mencium tumpukan daging panggang itu.
“Tentu
saja, Ryeowook paling jago barbeque, oh tidak, dia pandai memasak
apapun. Lihat, aku tampak gemuk bukan ? Ryeowook mencekokiku masakannya
yang lezat setiap hari.” Seul Rin mulai berceloteh. Aku tertawa
mendengarnya.
“Bukankah itu bagus ? Nyonya Kim ?” Pria bernama Ryeowook itu terkekeh.
Seul Rin
merengut kesal kearah pria itu dan kembali menatapku,”oh ya, bagaimana
perjalananmu hingga bisa sampai ke apartemenku ? Maklum, apartemenku
agak terpencil.”
“Ya,
apartemenmu sangat terpencil, aku bahkan tersesat. Untungnya, seseorang
yang baik hati mengantarku ke sini…..” aku berhenti sejenak. “Oh tidak
!!”
Seul Rin menatapku aneh. Keningnya berkerut.
“Aku lupa menanyakan namanya !!”
***
Beberapa
minggu setelahnya, aku beretmu lagi dengannya. Diwaktu yang sama, yaitu
sore hari dan di tempat yang sama. Bedanya, kali ini aku tidak tersesat,
dia tidak membawa belanjaannya, dan aku tidak menabraknya.
“Hey.”
“Hai,” balasku sambil tersenyum kikuk.
“Aku belum
tahu namamu.” Suara beratnya menenangkanku. Tapi tidak cukup untuk
menenangkan degup jantungku yang bertalu-talu cepat saking senangnya.
Akhirnya,
kami menghabiskan sore itu sambil berjalan-jalan di bawah indahnya pohon
maple. Ia mengajakku minum kopi di cafe yang terletak tidak jauh dari
Maple Street.
Lelaki
bermata cokelat itu bernama Kyuhyun. Cho Kyuhyun. Ia tampak masih berasa
salah setelah menbrakku beberapa waktu yang lalu.
“Maafkan
aku tentang insiden tabrakan itu. Apalagi kau sampai berdarah karena
itu. Jeongmal mianhaeyo, Seohyun~a.” Ujar Kyuhyun pelan.
“Hmm….
bagaimana kalau kau traktir aku hari ini dan aku akan memaafkanmu ?”
Raut menyesal perlahan-lahan menghilang dari wajahnya dan digantikan
oleh senyum gelinya. Demi tuhan, senyumnya sungguh manis.
“Oke. Anything for you.” Aku tersedak. Astaga, pria ini benar-benar.
Esok hari
dan seterusnya, kami selalu bertemu lagi. Seolah sungguh-sungguh
ditakdirkan. Walaupun tidak selalu di Maple Street. Kadang-kadang, kami
bertemu di taman dekat apartemen Seul Rin.
Kami kian dekat, hingga tanpa
sadar sesuatu menjalari hatiku. Aku mulai jatuh cinta padanya. Pada
mata cokelat gelapnya yang indah, pada senyumnya yang menenangkan, pada
kebaikannya, dan pada semua yang ada pada dirinya.
***
Hampir tiga
bulan aku mengenal Kyuhyun. Selama itulah kami berteman. Kyuhyun lebih
tua tiga tahun dariku. Ia bekerja sebagai computer programmer di suatu
perusahaan besar di Korea.
Sementara aku masih melanjutkan kuliah ku di
Kyungwoon University. Kami sering menghabiskan waktu bersama. Mengobrol
dengannya seolah membaca koran, pengetahuan Kyuhyun sangat luas.
Kyuhyun
juga humoris tapi terkadang romantis. Pernah suatu kali ia merayakan
ulang tahunku dengan mengajakku dinner di pinggir danau, beratapkan
bintang-bintang. Ulang tahun terindah namun terpahit yang pernah
kurasakan karena Kyuhyun tiba-tiba mengatakan sesuatu yang tidak ingin
kudengar.
“Seohyun~a,” panggil Kyuhyun lembut. Saat itu kami sedang menikmati kopi sambil melontarkan lelucon-lelucon konyol.
Ia mengenggam tanganku lalu menunduk. “Aku harus kembali ke negaraku.”
“A….apa ? Tapi negaramu kan disini, Di Korea Selatan ! Apa maksudmu ?” Aku menatapnya.
“Orangtuaku
tinggal di Australia, Seohyun~a. Aku memang orang Korea Selatan, tetapi
orangtuaku pindah ke Australia saat umurku 5 tahun. Dan aku juga ikut
pindah. Aku kembali kesini saat kuliah dan berniat meneruskan hidupku
disini. Tetapi, appaku memaksa untuk melanjutkan pekerjaanku di
Australia. Aku juga tidak mengerti pikiran appaku,” dia menghelan nafas
sebentar, lalu melanjutkan,”Yang jelas, aku akan kembali ke Australia
besok.”
Aku menatapnya tak percaya. “Maafkan aku. Jeongmal mianhaeyo Seohyunnie…..”
Tanpa
sadar, air mataku mengalir. Aku menarik tanganku dari genggamannya.
Kyuhyun menatapku. Mata cokelatnya sarat akan kesedihan. Belum pernah
aku melihat mendung dimatanya. Tangisanku makin menjadi.
“Hahahahahaha,”
aku tertawa hambar. “Aku bahkan tak tahu mengapa aku menangis. Kau
bukan siapa-siapa buatku. Kau hanya sahabatku…” Aku menunduk menghapus
air mata dengan punggung tangan, berusaha tegar.
“Jinjja ?” Kyuhyun terlihat kecewa. Ia kembali menggenggam tanganku.
“Jadi…… kita berdansa ?” ajaknya. Aku terbelalak kaget. Tidak mengerti kenapa disaat sperti ini ia malah mengajakku berdansa.
“Ne ?”
“Sejak
dulu, aku ingin sekali berdansa dengan seseorang dibawah guguran daun
maple, ditemani cahaya bintang dan bulan. Jadi…… maukah kau berdansa
denganku ? Setidaknya malam perpisahan kita ?” Ia bertanya dengan nada
ragu-ragu. Aku mengangguk pelan.
Kyuhyun
merangkulku, melatakkan tangannya dipinggangku dan mendekapku erat. Aku
menyandarkan kepala dibahunya. Suara Mandy Moore mengalun lembut dari
telepon genggeam Kyuhyun. Entah kapan ia menyetelnya.
“Kau tahu, Seohyun~a ? Ini lagu favoritku,”bisiknya.. Ia menyenandungkan lagu tersebut.
There’s a song that inside of my soul
It’s the one that I’ve tried to write over and over again
I’m awake in the infinite cold,
but you sing to me over And over and over again
So I lay my head back down
And I lift my hands and pray
to be only yours I pray
to be only yours I know now,
you’re my only hope……..
It’s the one that I’ve tried to write over and over again
I’m awake in the infinite cold,
but you sing to me over And over and over again
So I lay my head back down
And I lift my hands and pray
to be only yours I pray
to be only yours I know now,
you’re my only hope……..
Aku kembali
menangis, suara merdu Kyuhyun membelai telingaku. Aku akan
merindukannya. Pasti. Hatiku berdenyut perih membayangkan hari-hari
tanpa dirinya.
“Seohyun~a,”
Aku mendongak, menatap wajahnya.
“Berjanjilah
padaku kau akan menungguku, ditempat yang sama, dibawah pohon maple
ini. dimusim yang sama, aku akan kembali, dua tahun lagi.” Suaranya
bergetar, menahan emosi. Aku mengangguk sambil menahan tangis. Malam itu
berakhir setelah kami berdansa. Setelah itu Kyuhyun mengantarku pulang.
Tidak ada pengakuan cinta, tidak ada perlakuan mesra, hanya janji.
*flashback off*
***
Aku masih terdiam di bangku yang kududuki. Tak henti-hentinya menatap pohon maple,
seolah dengan begitu aku dapat mengingat kembali orang yang amat
kusayangi. Sudah dua tahun berlalu dan aku harus menunggu Kyuhyun
kembali.
Musim gugur hampir berakhir, beberapa pohon maple
terlihat kering dan mati. Seperti hatiku. Taman ini terlihat sepi,
tentu saja. Tidak akan ada orang waras yang duduk dan menikmati hari
dicuaca seperti ini. Namun dari kejauhan aku melihat seseorang tengah
berjalan mendekat. Ia menghampiriku dengan tergesa-gesa. Wajahnya
terlihat khawatir, seketika aku membuang muka.
“Seohyun~a,”panggilnya. Aku bergeming. Ia mendesah dan duduk di sebelahku. Menggenggam tanganku.
“Cukup, Seohyun~a. Cukup.” Aku menoleh, menatapnya dengan kesal..
“Apa maksudmu dengan cukup, Seul Rin~a ?” tanyaku gundah. Seul Rin terus menatapku. Wajahnya terlihat khawatir.
“Kyuhyun sudah pergi. Ikhlaskan dia,”
ujarnya. Perkataannya menusuk hatiku, perih sekali. Aku kembali membuang
muka, tak ingin melihat kenyataan di wajah Seul Rin
“SHIREO !! Kami sudah berjanji akan bertemu
kembali disini, dua tahun lagi. Dan itu sekarang. Aku akan terus
menunggunya, karena aku yakin ia akan datang. Ia sudah berrjanji
padaku….” Air mataku mulai mengalir.
“Musim gugur hampir berakhir, tidakkah kau
menyadarinya ?!” Suara Seul Rin meninggi. Aku membelalakkan mata, tak
percaya Seul Rin bisa marah padaku.
“Kau tahu, kita sama-sama tahu. Kyuhyun tidak akan pernah kembali. Sadarlah Seohyun~a….” Ucapnya pelan, nyaris berbisik.
Namun kata demi kata yang Seul Rin ucapkan
mengiris hatiku. Kenangan demi kenangan berputar diotakku. Seperti roll
film. Berita dua tahun lalu begitu menyiksaku. Membuatku menolak
kenyataan. Kyuhyun tidak pernah kembali, Ia bahkan tidak sempat sampai
di Australia. Pesawat yang ditumpanginya mengalami kecelakaan. Tidak ada
penumpang yang selamat.
“Tapi dia berjanji padaku, Seul Rin~a. Dia
berjanji akan kembali….” Aku terisak hebat. Aku tahu, aku telah
membohongi diri sendiri. Aku menutup mata, menolak kenyataan bahwa
Kyuhyun telah tiada. Dua tahun berlalu dan aku tetap menunggu Kyuhyun.
Di tempat kami berjanji akan bertemu.
Hatiku perih ketika mengingat kalau Kyuhyun
belum tahu perasaanku padanya. “Kyuhyun tidak tahu……. ia tidak tahu
bahwa aku mencintainya….” Aku terisak hebat.
Seul Rin ikut menangis bersamaku. Merasakan pedih yang kurasa.
“Kyuhyun tahu itu, dan ia juga menyayangimu. Ikhaskan dia, biarkan dia tenang di alam sana……”
Aku terus terisak. Kubiarkan Seul Rin
memelukku dan mengelus rambutku. Kyuhyun tidak akan pernah kembali. Aku
telah kehilangan separuh hatiku.
Sing to me the song of the stars
Of your galaxy dancing and laughing and laughing again
When it feels like my dreams are so far,
sing to me of the plans that you have for me over again
Of your galaxy dancing and laughing and laughing again
When it feels like my dreams are so far,
sing to me of the plans that you have for me over again
So I lay my head back down
And I lift,
my hands and pray…
to be only yours I pray….
to be only yours I know now you’re my only hope
And I lift,
my hands and pray…
to be only yours I pray….
to be only yours I know now you’re my only hope
I give you my destiny,
I’m giving you all of me
I want your symphony
Singing in all that I am
at the top of my lungs…..
I’m giving it back……
I’m giving you all of me
I want your symphony
Singing in all that I am
at the top of my lungs…..
I’m giving it back……
So I lay my head back down…
And I lift my hands and pray….
to be only yours I pray……
to be only yours I pray….
to be only yours i know now you’re my only hope……..
And I lift my hands and pray….
to be only yours I pray……
to be only yours I pray….
to be only yours i know now you’re my only hope……..
(Only Hope by Mandy Moore)
-END-
BWAHAHAHAHAHAHA, jelek yah ?? #mewek
yah2, aku ini memang sedang sial karena aku kalah taruhan dengan seseorang bernama ______. Hiks2, dana ku terpaksa memberinya pulsa 10.000. huee.... #mewek




0 comments:
Post a Comment